RSS Feed
  1. First Step to Rumah Harapan VCF BALI

    April 2, 2016 by silly

    Beberapa hari belakangan ini merupakan hari yang sangat berat dan melelahkan buat saya. Dimulai dengan kehilangan uang sebesar Rp. 111.000.000 yang mana sebagian uang tersebut adalah milik yayasan dan separuhnya lagi adalah uang saya yang saya kumpulkan sebagai tabungan untuk hari tua nanti. Sudah melapor ke pihak yang berwajib tapi sampai enam bulan berjalan, kasus nya masih dalam tahap penyidikan. Rasanya jika ada tombol exit, pengen cepet-cepet saya pencet dan segera keluar dari kondisi seperti itu. Tetapi gak mungkin juga, karena saya harus mempertanggungjawabkan uang tersebut kepada para donator yang selama ini mensupport saya.

    Belum lagi rencana pembukaan beberapa cabang Rumah Harapan, meskipun saya dibantu oleh volunteer volunteer yang baik hati tapi tetap saja ada beberapa hal yang masih menyita pikiran dan tenaga saya.

    Akhir februari kemarin saya terbang ke Bali untuk survey kebutuhan di sana sebagai salah satu bahan pertimbangan kami membuka cabang Rumah Harapan.

    Tuhan itu memang paling tahu apa yang kita butuhkan yah, kebetulan Ibu Viviyanti Tolgay, owner dari Naughty Accessories dan Les Fammes menawarkan saya untuk tinggal di Villa miliknya, Tolgay Living Seminyak.

    What a beauty, comfy, and peacefull villa

    IMG-20160222-WA0004

    IMG-20160222-WA0006

    IMG-20160222-WA0007

    IMG-20160222-WA0008

    IMG-20160223-WA0039


    Hari ke dua di Bali, sesuai tujuan saya ke Bali saya meeting dengan dr.Joy salah satu dokter dari RS.Siloam, Denpasar. Mengenai kebutuhan rumah singgah di Bali, ternyata pasien pasien yang sedang menjalani pengobatan di RS.Sanglah, Denpasar. Bukan hanya berasal dari Bali, melainkan pulau pulau sekitar seperti Alor, Timor, Flores, Lombok, NTT, NTB, dll. wich is mereka gak punya keluarga di Bali dan gak punya tempat tinggal. Calon volunteer yang nantinya akan membantu saya menjalankan Rumah Harapan di Bali juga sudah ada, Selanjutnya tinggal cari rumah untuk kita sewa.

    Di hari ke tiga, dr.Joy mengirimi foto2 hasil survey rumah yang bisa kita sewa untuk Rumah Harapan, Bali. Look at our future home for hope.

    IMG-20160225-WA0001

    IMG-20160225-WA0002

    IMG-20160225-WA0003

    Saya sendiri gak nyangka, akan mendapat rumah yang besar, nyaman, dan minim renovasi secepat ini, dengan harga yang tidak terlalu tinggi. sang pemilik rumah mau kami menyewa 2 tahun sekaligus, yang mana harga sewanya 30jt/tahun. Artinya kami harus membayar 60jt untuk sewa rumah. Mendadak kepala sakit lagi, disatu sisi saya baru kehilangan uang, tapi disisi lain keinginan membuka cabang baru juga besar, agar bisa terus membantu anak anak lebih banyak lagi. Ngamen ke perusahaan perusahaan juga butuh waktu yang gak sebentar untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Takut keburu rumah nya disewa oleh orang lain. Oh.. GOD, please help me.

    Dan ketika kita sudah lelah dan  butuh tempat untuk sejenak penyandarkan bahu, dan memulihkan semangat yang sudah mulai mengendur… Tuhan benar-benar menyediakan semua yang saya butuhkan, bahkan terkadang melebihi apa yang kita perlukan.

    Siang itu saya di ajak lunch bareng oleh Bu Vivi, beliau ingin mendengarkan cerita tentang perjalanan saya membangun rumah harapan. Selesai bercerita she said

    “Kak, memiliki yayasan adalah mimpi saya dari dulu. Tapi saya belum bisa berkomitmen, maka dari itu saya akan bantu kakak membangun Rumah Harapan as good as I can. Sesampai di Jakarta kakak dan team harus ketemu dengan team saya. Saya akan meminta team saya untuk membantu kaka merapihkan apa yang kaka perlu, Kita buat team yang kuat, untuk memudahkan langkah kakak membuka cabang di tempat lain. Dan untuk sewa rumah di Bali, kakak buat saja proposal nya biar saya yang bantu bayar”

    Oh… GOD is GOOD disaat saya lelah karena masalah kemarin itu. tiba-tiba saya dipertemukan dengan orang yang begitu istimewa, seseorang yang akan menjadi solusi dari masalah saya, serta menjadi pelengkap dari kekurangan kekurangan saya selama ini.

    Tentu saja saya sangat senang sekali, Ini benar-benar jawaban dari kepenatan hati saya beberapa hari belakangan ini.

    I can’t say a word, except:……….. “Thank GOD”

    God really have a very strange sense of humor… but HE really knows what I need now…


  2. Komunikasi: Kunci Kehangatan Keluarga

    March 10, 2016 by silly

    Banyak orang bertanya-tanya, apa sih yang membuat saya seolah gak pernah kehilangan energy dalam melakukan seluruh kegiatan saya.

    Jawabannya cuma satu…. KELUARGA

    B0WlXMVCEAAMMaW

    IMG_1986[1]

    me and ochi

    Iya, saya sangat mencintai keluarga saya… Buat saya mereka adalah segalanya.. Berada di tengah-tengah mereka seperti berada ditengah-tengah oase yang menyejukkan.

    Kehadiran anak-anak yang luar biasa lucu dengan tingkah pola mereka yang aneh-aneh dan terkadang menggelikan, merupakan surga yang tak tergantikan dalam hidup kita… dan saya tidak akan pernah rela menukarnya dengan apapun, even dengan iming-iming honor yang menggiurkan untuk waktu-waktu tertentu dimana saya seharusnya menghabiskan waktu dengan keluarga saya,… surga saya…

    Kita semua makhluk sosial, bahwa kita semua selalu butuh untuk saling berinteraksi dengan sesama, dan menjadikan hidup kita berharga dengan berbuat sesuatu untuk diri kita sendiri, untuk orang lain, dan terutama untuk bangsa dan Negara kita.

    Tetapi ada kalanya juga kita butuh waktu untuk recharging energy, memulihkan seluruh stamina yang terkuras habis ketika kita menjalankan aktifitas social kita. Dan buat saya, salah satu cara memulihkan energy tersebut adalah dengan menjalin keintiman dengan keluarga

    Intimacy with family is the best way to rejuvenate my body, my mind and my soul.

    IMG-20120103-00467

    IMG_0982

    IMG_1305a

    IMG_09821

    Saat-saat terindah dalam hidup itu tidak harus selalu diisi dengan liburan ditempat yang mahal dan ekslusive. Saat-saat terindah itu justru bisa diisi dengan menghabiskan waktu berjam-jam, bermalas-malasan bersama keluarga di tempat tidur, bercanda dan tertawa bersama, tanpa memikirkan hal-hal lain kecuali kebersamaan..

    Canda tawa mereka, cerita-cerita lucu mereka, sungguh akan membuat kita merasa sudah tidak butuh apa-apa lagi… merasa jadi manusia paling kaya dan paling beruntung didunia, bisa berada ditengah-tengah mereka.

    Ini yang membuat kita selalu bersemangat untuk selalu punya energy dengan anak-anak ini.

    Saya misalnya, saya tidak pernah memikirkan berapa banyak waktu saya yang terbuang untuk kunjungan-kunjungan ini, berapa banyak biaya yang harus saya keluarkan dan berapa jarak yang harus saya tempuh untuk bisa berdekatan dengan anak-anak yang malang ini, karna saya sadar… saya melakukan ini semua untuk Tuhan, dan untuk diri saya sendiri…

    Cause We feel good… by doing good things…

    Sayangnya… rumah saya yang jauh dari pusat kota,.. kondisi jalan Jakarta yang unpredictable,.. seringkali menjadi kendala yang utama bagi saya untuk bisa berbagi kasih dengan mereka. Dan ini sungguh sangat menyebalkan karena saya punya target harus tiba dirumah sebelum jam 8 malam, supaya saya masih bisa bantu anak-anak saya bikin PR dan menemani mereka belajar.

    Memang, komunikasi adalah kunci utama saya untuk tetap menjaga kehangatan dalam keluarga kecil kami. Setiap ada kesempatan, kami selalu bicara… Apapun kami bicarakan, terkadang justru hal-hal yang sangat-sangat tidak penting… yang penting kami bicara…

    Bicara, membuat kita mengerti satu sama lain… memahami satu sama lain, dan menjadi sangat dekat satu sama lain… Kedekatan inilah yang menimbulkan kehangatan..

    Bagi pasangan-pasangan muda, jangan lengah karena merasa masih muda dan masih panjang perjalanan, sehingga tidak peduli pada kunci utama ini: Komunikasi

    Semoga semua keluarga diluar sana, bisa merasakan kehangatan komunikasi yang intens ditengah-tengah keluarga kecil mereka, seperti yang saya rasakan. Aminnn…

    IMG_20160310_101748

     

    With Humble Heart,

    Valencia Mieke Randa (Silly)


  3. Learning From The Kids about Giving

    February 15, 2016 by silly

    Hallo semua…

    Sudah setahun lebih blog ini gak diupdate, saking serunya dengan kegiatan sosial yang saya buat. Keinginan menulis kadang dikalahkan oleh pekerjaan-pekerjaan yang harus segera saya kerjakan. Padahal tahun lalu saya sempat berjanji untuk lebih banyak menulis.

    Di akhir 2015 kemarin, Beberapa minggu sebelum hari Natal ada cerita mengharukan yang saya pelajari dari anak ke dua saya, Andre. Setiap hari minggu, seperti biasa dia bangun pukul 04:30 lalu mandi pukul 05:00, pakai baju sendiri, dan semua dia lakukan sendiri. Pukul 05:30 dia sudah ada disebelah tempat tidur saya, membangunkan saya tidur, sambil bilang

    “mommy, let’s go to chruch”

    Nah… karena ibadahnya pukul 606:00 pagi, kadang saya gak sempat menyiapkan sarapan, ART di rumah juga belum bangun, jadi kita selalu berangkat gereja dalam keadaan perut kosong.

    Selesai ibadah, Andre said

    “ mommmyyyy.. let’s buy something to eat, I’m sooooooo starving. I think I’m starting to digest my self!”

    Hahaha, dia kelaparan ternyata, sampai serasa perutnya mengunyah diri sendiri. So, we went to canteen, and ordered 2 pack of chiken noodles . sambil nunggu Andre megangin perutnya. Saya Tanya “kenapa?” dia bilang perutnya keruyukan, bunyi bunyi, kelaparan. And I said “sabar ya sayang?”, and he said, “oke” dengan mimic lucu karena nahan lapar.

    Setelah mie ayamnya jadi, Andre mau makan dengan adiknya, akhirnya mie nya dibawa pulang. Saat naik mobil saya kaget, Andre menghilang!!! Bingung, saya turun dari mobil dan buru buru cari Andre di tengah kerumunan massa yang baru bubar gereja. And there he is… berdiri berhadapan dengan seorang ibu tua berpakaian lusuh yang sedang menggendong anaknya, di depan gerbang gereja.

    Pemandangan selanjutnya membuat mata saya berkaca kaca, hati saya dialiri rasa hangat yang dalam dan rasanya suit bernapas karena haru.

    He handed over his Chicken noodles to this old woman, then suddenly hug her waist for awhile, before he waived his hand and said good bye to them.

    Saat Andre mendekat, saya bisa melihat matanya berkaca kaca, saya Tanya “Andre, kenapa nangis?”

    Him: ”no mommy, this is a tear of joy”

    Me: “why did you gave your food to them I thought you are starving”

    Him: “It’s ok mommy, I am not starving anymore, they need it more than me”

    Ya tuhannnnn, terkadang saya lebih mementingkan diri saya sendiri , ketimbang orang lain. Saat itu saya belajar, bahwa kita hidup, bukan hanya dari apa yang kita makan, tapi juga dari apa yang kita kasih untuk nurani kita.

    And it’s priceless!

    Thank you for the lesson dear son, and thank you God for giving him such a beautiful heart.

    I am a Happy mom.


  4. Klarifikasi tentang Fahmi, Serang Banten

    February 12, 2016 by silly

    Masih ingat berita ttg Fahmi?

    image

    Berikut Hasil Survey team pendampingan Rumah Harapan:

    Fahmi dan keluarga tinggal bareng2 sama neneknya dan ada orang lain yg ikut numpang 1 kamar agar bisa membantu biaya kontrakan.

    Selama ini mamanya hanya beli obat untuk fahmi, karena pihak rumah sakit menyarankan untuk berobat jalan.

    Uang donasi yg di terima untuk beli obat fahmi karena setiap check up selalu di berikan obat yg sama. Setiap bulan biaya obat fahmi 1,3 juta, tp beliau tidak merinci obat2an apa aja.

    Ibunya agak emosional karna berita yg beredar. Saat team kami berkunjung, saat itu juga ada ibu2 pengajian dari jakarta yg datang untuk membantu karena membaca posting mengenai fahmi.

    image

    Ohya, soal emas berenceng itu, kata tetangga nya yg nelp salah satu volunter kami di 3LittleAngels yg ikut share info ttg rencana saya dan team utk rescue Fahmi: katanya emas itu cuma perhiasan imitasi, biasalah, beli dipasar bt dipake pergi pengajian.

    Menurut pengakuan ibunya, terakhir dapat bantuan 2 bulan yg lalu dari badan wakaf AlQuran 16jt, dan uangnya di gunakan untuk usaha warung nasi.

    Waktu team kami mengajak Fahmi dan ibunya ikut ke Rumah Harapan, ibunya ga mau, karena fahmi ternyata punya 2 adik kandung dan saudara tiri. Ibunya memang sudah menikah lagi, tapi tidak membuat ibunya lantas lalai mengurus Fahmi.

    Disamping itu ada warung nasi yg harus ibunya urus untuk membantu keuangan keluarga. Semua donasi yg mereka terima dipake untuk membiayai pengobatan Fahmi.

    image

    Kalau tabungan donasinya sudah menipis, ibunya lalu menggendong sendiri fahmi ke tempat2 keramaian, untuk mencari bantuan donasi bt Fahmi. Dan itu gak gampang mengingat tubuh fahmi yg cacat.

    Jumlah donasi yg dia terima tdk disebutkan, dan kami juga gak merasa punya hak utk menanyakan hal tsb.

    Yang jelas, untuk rescue Fahmi ke rumah harapan, sepertinya tdk memungkinkan karena Fahmi masih punya 2 adik kandung dan saudara tiri, plus punya warung nasi yg harus diurusi demi menunjang biaya hidup mereka.

    Apakah Fahmi dimanfaatkan?

    Semua kami kembalikan ke pendapat masing2.

    Bayangkanlah ini: seumur hidup Fahmi akan seperti ini kondisinya, dan ibunya selama masih hidup, akan melayani dan mengurus Fahmi yg memang gak bisa apa2 selain bergantung pada ibunya.

    Kalau sejak tahun 2006 dia mencari bantuan, mungkin malah sejak kecil mamanya mencari bantuan utk anaknya sejak ditinggal suami. Menikah lagi mungkin pilihan yg harus dijalani spy beliau tdk merasa berjuang sendiri.

    Kalau sampai sekarang masih suka nyari bantuan kesana kemari, ya karna MUNGKIN SAJA, I repeat, mungkin saja Fahmi masih butuh banget bantuan yg tdk tercover dari penghasilan warung nasi, dan donasi2 yg mulai menipis.

    We never know what kind of life they’ve been through. klo kita ga bisa yakin betul kejadian sebenarnya, at least we hold our self not to judge.

    Klo dia dapat donasi banyak, anggap aja emang udah rejekinya Fahmi.

    Demikian hasil survey team kami ke serang, semoga bisa melegakan semua pihak sehingga yg bener2 ingin membantu, tidak lagi merasa ada yg mengganjal dihati.

    Love and Respect,

    Valencia Mieke Randa and team
    Rumah Harapan Valencia Care Foundation