RSS Feed
  1. Dia atau Aku yang Mati, Part I

    February 20, 2015 by silly

    Wrote for Novel: CERITA SAHABAT 2 bareng Alberthiene Endah dkk

     *****

     

    Janet sedang meletakkan tumpukan handuk-handuk bersih itu dengan hati-hati kedalam keranjang rotan yang terletak diatas meja marmer berukuran 200 x 90 cm, ketika tiba-tiba bel president suite room 8001 berdering.

    Si wanita – around 25yo, cantik, seksi, berkulit putih, tingginya sekitar 168cm, langsing dan berambut burgundy panjang bergelombang – segera berlari menghampiri pintu besar presiden suite tersebut, mengintip dari balik pintu dan segera membukanya dengan antusias. Dihadapannya berdiri tegap seorang pria tampan, memegang buket bunga mawar ditangan kanan, dan sebotol champange di tangan kiri.

    Perempuan itu menghambur kedalam pelukan lelaki yang ada dihadapannya, menghujaninya dengan ciuman dan melingkarkan kedua lengannya pada leher sang pria. Dia mengambil buket bunga mawar dari tangan pria itu, dan melemparkannya begitu saja keatas sofa.

    Mereka berciuman dengan penuh gairah, seolah ini baru pertama kalinya mereka bertemu.

    Dan Janet menyaksikan pemandangan itu dengan dada yang bergemuruh, kepala yang berdenyut dan darah yang mendidih karena amarah..

    Ah, sudahlah…

    Dia harus focus pada misi yang sekarang sedang dikerjakannya.

    Sudah lama sekali Janet menunggu saat2 seperti ini, saat dimana kedua makhluk yang sedang dimabuk cinta itu tidak menyadari bahaya yang sedang mengintai mereka dari balik kamar mandi president suite room 8001 Hotel Ritz Carlton Millenia Singapore tempat mereka menginap malam ini.

    Janet melirik kembali pada tumpukan handuk-handuk bersih yang tadi diletakkannya dengan manis di atas meja marmer kamar mandi tersebut. Sebuah bom rakitan mini berkekuatan ledak high explosive, yang diperolehnya dari agen rahasia yang bekerja untuk ayahnya, sudah diselipkan diantara lipatan handuk tersebut, dan siap menghantarkan siapa saja yang berada dalam radius 100m untuk mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan.

    Handuk-handuk itu kini berdetak,… seirama dengan detak jantungnya yang terus memburu menahan amarah.

    ****

    Namanya Janet, dia perempuan yang sangat membenci laki-laki. Baginya laki-laki diciptakan hanya sebagai pelengkap didunia, untuk kemudian dimusnahkan jika tidak lagi diperlukan. Baginya, laki-laki tak ubahnya binatang yang takluk pada perintah yang lebih banyak berada dikelaminnya. Pengalaman pahit akan kehidupanlah yang membentuknya menjadi seperti ini.

    Di usia 8 tahun, Janet diperkosa oleh orang yang tak dikenal. Ketika itu mereka baru saja pindah dari Indonesia ke London. Saat musim salju tiba, dia senang sekali bermain snow angel dihalaman belakang rumah mereka di Grenville Hill, Hampshire, London. Ketika sedang mengepak-ngepakkan tangan dan kakinya diatas salju, membentuk sepasang sayap malaikat, tiba-tiba seorang lelaki bertubuh besar mendekapnya, menutup mulutnya dengan  benda yang membuatnya nyaris tak sadarkan diri.

    Hal terakhir yang dia ingat, adalah sebuah benda tumpul menghantam dengan keras selangkangannya, dan dia merasakan darah hangat yang mengalir melalui sela-sela kakinya.

    Seketika itu juga, semuanya menjadi gelap..

    * * *

    Diusia 18 tahun, ibunya menikah lagi dengan seorang pemabuk berkebangsaan perancis, yang kemudian memboyong mereka sekeluarga pindah ke Paris. Disana ibunya bekerja sebagai pelayan restaurant sementara ayah tirinya menghabiskan waktu mabuk-mabukan di resto tersebut.

    Dia benci ayah tirinya, karena setiap saat mereka berpapasan, ayah tirinya berusaha meremas payudaranya. Satu ketika, disaat ibunya tidak dirumah, ayah tirinya memasuki kamarnya, dan dengan sigap didekapnya tubuh Janet. Disingkapkannya rok Janet, sehingga pahanya yang indah dan mulus itu semakin terlihat dan membuat gairah lelaki ayah tirinya semakin menjadi-jadi.

    Tanpa belas kasihan, direnggangkannya kedua kaki Janet dan dimasukinya tubuh perempuan ini secara paksa. Semakin dalam, semakin dalam dan semakin dalam, hingga darah segar kembali mengucur deras disela-sela kakinya.

    “Kau ingin ibumu bahagia dan selamat, bukan? Jangan pernah mengatakan ini pada ibumu, Paham kamu!!!” ancam ayah tirinya.

    Dia hanya menangis, namun tidak tahu mesti berbuat apa. Dalam benaknya, yang dia tahu, dia harus menyelamatkan ibunya dari cengkraman lelaki yang hanya bisa mabuk dan memperlakukan ibunya sebagai object pemuas nafsu belaka itu.

    Tekadnya sudah begitu kuat untuk mengajak ibunya kabur,… ketika satu malam, dia mendengar ibunya bertengkar dengan ayah tirinya,

    “Sudah kubilang, anak itu tidak berguna, dia hanya menjadi beban buat kita. Kenapa tidak kau lenyapkan saja sih anak itu begitu dia lahir, merepotkan saja!!”

    “Sudah Kucoba, tapi tidak berhasil! Ayahnya terlalu sayang pada bayi ini, dan dia yang membantuku meraih semua impianku”

    Dan itulah saat terakhir dia bertemu ibunya.

    ***

    Terlahir di Indonesia, dari seorang ibu berdarah sunda dan ayah berkebangsaan Inggris, membuat Janet menjadi bayi yang sangat cantik dan menggemaskan. Ibunya seorang lady escort di sebuah club malam. Ayahnya bertemu ibunya disana, dan mereka menikah.

    Di usia Janet 8 tahun, mereka pindah ke London. Menginjak remaja, orang tuanya bercerai dan ayahnya menikah lagi dengan perempuan berkebangsaan Inggris juga.

    Ibunya kecewa, tapi tidak butuh waktu lama buat dia kembali menemukan pria manapun yang dia mau. Ibunya berpindah dari satu pelukan lelaki ke pelukan lelaki lainnya. Lalu memutuskan menikah dengan seorang lelaki paruh baya berkebangsaan Prancis yang tampan namun suka mabuk-mabukan. Lelaki inilah yang kemudian mengajak dia dan ibunya pindah ke Prancis.

    Janet menghabiskan masa remajanya di Paris, dan kini, setelah dewasa, dia memutuskan untuk meninggalkan ibunya dan melanjutkan hidupnya di New York City. Kehidupan tidak terlalu berpihak padanya di Paris, dia benci ayah tirinya, dia benci ibunya…

    Lucky for Janet… pengalaman berkeliling dunia ini membentuknya menjadi perempuan yang mandiri, sangat cerdas dan attractive. Satu hal yang sangat kental dalam dirinya adalah, dia sangat membenci laki-laki.

    Ya… Hampir separuh hidupnya dihabiskan untuk memikirkan bagaimana menghancurkan laki-laki, dan membuat mereka bertekuk lutut dihadapannya.

    Baginya, dengan kecantikan yang luar biasa memukau, tidak sulit bagi Janet untuk mendapatkan laki-laki manapun yang dia mau.

    Baginya, laki-laki hanyalah pemuas nafsu dan mesin uang, untuk kemudian dicampakkannya kembali jika sudah tidak diperlukan, sama seperti mereka memperlakukan dia dan ibunya.

    Dia berhubungan dengan banyak pria kaya, mereguk sebanyak-banyaknya kekayaan mereka, lalu ditinggalkan begitu saja ketika dia sudah tidak membutuhkan mereka lagi.

    Sampai kemudian dia bertemu lelaki ini… Pria kaya raya yang suka sekali mempermainkan perempuan. Playing god with his power. Dengan kekayaan yang dia punya, cinta bisa dia beli berapapun dalam semalam… Tapi apakah benar cinta yang dia dapatkan?

    Hmmmm… Entahlah…

    Lelaki ini, Dave namanya, memiliki mata elang yang liar, dingin dan misterius. Membayangkan menaklukkan lelaki ini membuat Janet merasakan orgasme yang luar biasa. Dia tahu, sulit sekali menaklukkannya. Tapi bagi Janet, tidak seorangpun pria yang sanggup melepaskan diri dari jeratnya.

    Dan untuk menguasai dunia, dia harus mendapatkan lelaki ini menjadi suaminya. Harus!!!

    “He will be my golden ticket to own this world”, begitu pikirnya

    Dan, dari Aubrey – sekertarisnya yang seksi – dia memperoleh informasi bahwa titik kelemahan lelaki ini adalah… Lukisan… dan Sex.

    ***

    Ah, Tuhan memang luar biasa. Janet dikaruniai kemampuan melukis yang sangat extraordinary. Dia bisa menumpahkan kekesalan hatinya hanya dengan 5 menit gerakan-gerakan secepat kilat diatas kanvas, dan… voala… tiba-tiba anda sudah berhadapan dengan lukisan yang… ‘berbicara’

    Di pameran lukisan itulah akhirnya mereka berkenalan, menikah, dan menghabiskan tiap jam dalam hidup mereka, bercinta di rumah peristirahatan mereka di Denver, atau apartement mewah mereka di New York.

    Tiap sudut rumah merupakan tempat favorit mereka untuk bercinta. Tidak hanya di tempat tidur. di shower, di dapur, di atas meja makan, di teras, bahkan di balkon rumah, mereka bercinta dengan hanya ditemani bintang-bintang di langit, suara jangrik, serta bau rumput yang baru habis dipotong, yang dihembuskan angin dari ranch mereka.

    Mereka seperti pasangan yang baru bertemu setiap hari, selalu bergairah dan tidak pernah bosan bercinta dimanapun mereka inginkan.

    Mereka bahkan pernah bercinta di ruang ganti victoria secret, ketika Dave menemaninya berbelanja lingerie kesayangannya. Quicky sex is so tempting for them.

    Tapi kini semua rasa itu mulai lenyap, Dave suaminya, mulai jatuh cinta pada seorang perempuan cantik, berambut panjang bergelombang, yang semula melamar menjadi asisten pribadi Dave. Perempuan itu terlihat sangat cerdas, muda dan bergairah, bersemangat dan setiap kali bicara, dia terlihat sangat menarik. Perempuan ini bagaikan magnet bagi Dave. Dan dia membuat Dave lupa segalanya.

    Inilah awal malapetaka bagi Janet.

    Seumur hidup, baru kali ini dia menemukan laki-laki yang baginya apapun akan dia korbankan supaya bisa bersama. Lelaki ini memiliki segalanya. Dan dia sudah bertekad mengakhiri petualangannya ketika bertemu Dave, karena baginya, memiliki Dave sama artinya dengan memiliki dunia.

    Dan kini, dia merasa terancam. Perempuan itu nyaris merebut seluruh hidupnya. Perempuan itu membuat Dave melupakan segalanya, termasuk dirinya. Belum pernah dia melihat Dave begitu tergila-gila seperti ini.

    Perempuan itulah yang kini ada dihadapannya, sedang bercinta dengan lelaki yang dulu sangat dicintainya. Tidak! Kali ini dia menolak untuk mengakui bahwa dia mencintai lelaki ini. Didalam benaknya kini yang tersisa hanyalah perasaan jijik dan benci, yang membuatnya merasa sanggup untuk membunuh dan menguliti mayat lelaki ini, untuk kemudian dilemparkannya kehadapan anjing kampung. Lelaki penuh kuasa yang hidupnya hanya dihabiskan untuk uang dan perempuan.

    Dan bagi Janet, dia tidak akan membiarkan siapapun memiliki lelakinya. Dia harus memilih, jadi miliknya, atau tidak jadi milik siapa-siapa. Ya, lebih baik mati daripada harus menyaksikan perempuan itu merebut Dave dari tangannya.

    Dan kini… saat-saat yang dia tunggu sudah tiba…

    Janet kembali melirik kedalam kamar. Kedua makhluk yang dimabuk cinta itu sedang bergumul disofa, tanpa memperdulikan Janet yang sedang menyamar menjadi room service yang mengantar handuk-handuk bersih pesanan perempuan itu.

    “Think… Think… Think… Bagaimana mungkin aku bisa keluar dari kamar mandi ini, dan melewati mereka tanpa terlihat? Atau setidaknya tanpa berhenti dan mencekik perempuan murahan itu?”

    Janet berpacu dengan waktu dan emosinya yang tak terbendung… Sementara didalam sana… setiap detik handuk-handuk itu siap meledak…

    ***

    Didalam kamar, kedua mahluk itu masih saja sibuk saling mematut, ketika tiba-tiba, bel Penthouse itu berbunyi, nyaris meledakkan jantungnya.

    Lelaki ini berhenti… Mengacungkan satu jari pada perempuan itu sebagai isyarat supaya diam, lalu meraih jas kamarnya dan mengintip dari balik lubang pengintai.

    Perempuan itu, menutupi dadanya dengan selimut, sambil memandang cemas kearah Dave. Dave panik, namun berusaha untuk menahan diri, dan berfikir. Sejurus kemudian, dia membuka pintu, dan tampaklah wanita itu…

    Perempuan tinggi tegap yang berseragam safari, dengan laptop ditangan kanan dan i-phone terbaru ditangan kirinya. She is his husband’s secret agent. Mereka berbicara serius, lalu berpindah ke ruangan sebelah, yang letaknya diseberang kamar tidur penthouse tersebut.

    Sepatu manolo Blahniknya masih terderap diruang meeting sebelah, ketika perlahan-lahan Janet membuka pintu kamar mandi dan mengintip keluar.

    Aha! kesempatan!

    Janet harus segera keluar dari toilet… Mendorong perlahan kereta janitornya, dan tersenyum sopan pada perempuan diatas tempat tidur, yang pipinya masih merona akibat permainan cinta yang tertahan.

    Si perempuan, terlalu terlena untuk menyadari bahaya yang sedang mengintai dari balik kamar mandinya…

    Dan bom mikro yang ada di handuk-handuk itu, kini berdetak seirama denyut nadi perempuan ini..

    Belum sampai pintu penthouse, Dave dan Secret Agentnya keluar dari ruangan sebelah dan mengacungkan pistolnya.

    “Stop… Who are you!”

    Tidak ada pilihan lain, dia harus berbalik. Lelaki ini harus melihat siapa yang jadi malaikat pencabut nyawanya kali ini.

    Janet berbalik, melepaskan penutup kepalanya, rambut palsunya, dan menatap Dave lekat-lekat.

    “It’s me”

    “Janet? What are you doing here, how can u get in?”

    “And what are you doing here with that slut”

    Dave tidak bisa berkata apa-apa, dia terlalu panik untuk menyadari bahaya yang mengintainya dari segala sisi.

    Barusan agen rahasianya mengatakan bahwa Ayahnya baru saja meninggal dibunuh oleh lawan bisnisnya, dan kini dihadapannya, istrinya yang cantik sedang berdiri dengan amarah yang menyala-nyala…

    Dan dia tau, Janet pasti sedang mempersiapkan sesuatu untuk membalas dendam. Dia sudah menyimpan ini semua sejak lama, dan sadar bahwa Janet satu saat pasti akan mengetahui ini semua.

    Dia hanya tidak menyangka secepat ini…

    Janet mendorong trolly janitor kearah Dave, memencet tombol lift, dan pada saat yang bersamaan, luckyly, lift pribadi penthouse tersebut terbuka. Janet masuk dan cepat-cepat menekan tombol lantai dasar. Pintu lift segera tertutup sebelum Dave dan agen rahasianya berhasil masuk. Adrenalinnya memuncak, this is too exciting to watch.

    Tiba di lobby, dia segera berlari sekuat tenaga menuju taman, sebentar lagi pertunjukan dimulai.

    Dan baru beberapa meter dari pintu lobby, terdengar ledakan hebat diatas sana, di puncak bangunan hotel bintang 5 yang megah itu.

    ***

    Diatas sana.. Dave sedang berusaha menenangkan kekasihnya yang mengamuk karena cemburu melihat Janet hadir di penthouse mereka, ketika tiba-tiba sebuah ledakan hebat menghentakkan tubuhnya. Seluruh lantai penthouse tersebut hancur oleh ledakan bom high explosive yang diletakkan Janet dikamar mandi.

    Dan dibawah sana, Janet tersenyum penuh kemenangan. Sekarang dia tidak hanya terbayarkan dendamnya, tetapi kini, dia menjadi salah satu perempuan terkaya didunia, pewaris tunggal keluarga Hamilton.

    Ah, life is always full of surprises isn’t it ? :)

     


  2. Buku Kehidupan…

    January 12, 2015 by silly

     

    “Hidup adalah buku, jadi sebelum menutup buku ini, mari merenung sejenak, sudahkah kita menulis buku kehidupan kita dengan indah?….”

    As I said before… Hidup itu hanya sekali, dan sementara..

    Kita tidak pernah tahu kapan kita dipanggil pulang..  ‘Waktu’ kita itu… kita gak pernah tahu…

    Dia datang seperti pencuri… Gak kenal masih muda, masih anak2, atau masih banyak tanggungan, ketika kontrak kita didunia ini berakhir, kita semua pada akhirnya akan pulang.

    Dulu, saya takut banget mati… Takut banget kehilangan semua orang yang saya kasihi, takut banget membayangkan, seperti apa kehidupan disana kelak, apakah konsep surga dan neraka itu bener-bener ada?

    Gimana rasanya tidur didalam tanah yang dingin dan lembab, hanya kita dan alam yang menyatu, berteman sepi… tanpa suara, tanpa irama… hanya kita dan sunyi..

    Kepulangan Alm. Uje beberapa waktu lalu, sempat membuat semua kalangan bersedih, tidak peduli agama apapun, semua merasakan kehilangan yang luar biasa akan sosok anak muda yang cinta Tuhan dan jadi panutan semua orang..

    Kepulangan Alm Uje juga benar-benar mengingatkan saya kalau kita hanya “transit” di dunia ini.. Kehidupan kekal itu disana… after this life..

    Dan apakah kita akan mengalami “Kehidupan Kekal” atau “Kematian Kekal” di kehidupan setelah ini, ditentukan oleh bagaimana kita mengisi hidup kita yang sekarang..

    One thing for sure… If we spent our ‘transit-time’ sharing love, tender, care and peace to others,.. when our time comes, we will fly up with our colorful wings..:’)

    Sahabat…

    Hidup manusia itu seperti buku…

    Cover depan adalah tanggal lahir kita,

    Cover belakang adalah tanggal kepulangan kita..

    Tiap-tiap lembar adalah tiap-tiap hari dalam hidup kita, dan apa yang sudah kita lakukan..

    Kitalah yang menjadi penulis buku kehidupan kita..

    Ada buku yang tebal, ada yang tipis.. Ada yang menarik dibaca, ada yang tidak menarik sama sekali.

    Menarik tidaknya buku kehidupan kita, kitalah yang menulisnya.. Dan sekali menulis, tidak akan terhenti, sampai selesai..

    Semua yang kita kekep erat-erat di dunia ini, akan diambil seluruhnya dari pelukan kita,  sebelum kita menutup buku yang kita tulis…

    Lantas buat apa kita kekep erat-erat semua itu.. kalau pada akhirnya harus kita tinggalkan..

    Belajarlah berbagi, karena berbagi membuat kita punya sesuatu yang bisa kita tulis di buku-kehidupan kita..

    Yang menarik dari ‘buku-kehidupan’ itu adalah.. SEBURUK apapun halaman sebelumnya,.. slalu ada halaman selanjutnya yang putih bersih, baru dan tiada cacat..

    Jadi seburuk apapun kita mengisi hidup kita kemarin,.. slalu ada kesempatan untuk kita memperbaiki “halaman baru”, sebelum kita menutup ‘buku’ itu :)

    Halaman baru, means kesempatan baru untuk kita melakukan sesuatu yang benar, .. memperbaiki kesalahan, & melanjutkan alur cerita yang sudah ditetapkan-NYA

    Nikmati dan isilah halaman demi halaman ‘buku-kehidupan’mu dengan hal-hal yg baik,.. supaya  kelak ketika dibaca orang.. mereka akan tersenyum haru membaca buku kehidupanmu :’)

    Love freely… forgive freely…

    Jangan mendendam, karena hanya akan membuat kita terluka,… dan menuliskan luka itu dibuku kehidupan kita… lalu meninggalkan buku yang penuh luka…

    Jika ingin melahirkan ‘buku-kehidupan’ yg menarik,.. jangan lupa libatkan ‘ahliNYA’,.. Dalam setiap lembar buku kehidupanmu.. ini yang selalu saya bilang pada diri saya sendiri…

    Jangan lupa untuk selalu bertanya pada-NYA,… “apa yg seharusnya kita tulis di tiap-tiap hari… ditiap halaman buku-kehidupanku, wahai sang Empunya Kehidupan”.

    Supaya pada saat halaman terakhir buku-kehidupan kita selesai,… Dia mendapati buku kita sebagai buku yang sangat berkenan kepadaNYA.. :’)

    Jangan mau menghabiskan hidup mengisi bukumu dengan airmata orang lain.. Lebih baik menangis sekarang karena tidak bisa memenuhi keinginan dagingmu, ketimbang menangis selamanya kelak, karena sudah meninggalkan buku yang penuh airmata oranglain..

    Selamat menulis buku-kehidupanmu dengan tinta ‘Cinta’… dan pena kebijakan,..  serta warnailah dengan kasih dan pengertian…

    At the end…

    Selamat menutup lembaran bukumu hari ini dengan ucapan syukur,  krn buku-kehidupanmu hari ini terisi penuh dengan cinta, dan jadi berkat buat banyak orang.

     

    With Humble

    @JustSilly

    *this article is also written on my book “My 3LittleAngels – Malaikat-malaikat Tak Bersayap”


  3. Terkadang Kita Butuh Untuk Menangis

    January 5, 2015 by silly

    Kadangkala hidup mengharuskan kita untuk menangis meski tidak tahu betul apa yang membuat kita ingin sekali menangis.

    Yang kita tahu hanyalah bahwa kita sudah melakukan segala sesuatunya dengan benar, tetapi tetap saja kesalahan baik yang kita lakukan tanpa sadar, atau kesalahan yang tidak kita lakukan tetapi selalu ditujukan pada kita.

    Bahkan ketika kita merasa sudah membuat keputusan yang benar, namun bagi orang lain, pemikiran kita tetap saja keliru.

    Melelahkan sekali bukan hidup seperti ini?

    I’ve been there, done that.

    Tapi satu ketika, aku menemukan sebuah artikel yang membuatku tersentuh lalu berfikir… betapa selama ini aku lupa akan sesuatu yang sangat penting dalam hidupku.

    Ahhh, iya… aku baru sadar,…

    Tuhan sudah menciptakan aku seperti Matahari, bukankah matahari itu bersinar memancarkan keindahan cahayanya?.

    Tapi bagaimana aku bisa bersinar seperti matahari, jika hatiku seringkali dipenuhi oleh rasa iri, ketika melihat kebahagiaan orang lain.

    Bagaimana aku bisa bersinar, jika hatiku masih saja dipenuhi oleh kesedihan akan kebahagiaan orang lain.

    Bagaimana oranglain bisa menikmati keindahan cahaya hatiku, jika didalamnya, hanya dipenuhi oleh kecemburuanku melihat keberhasilan orang lain.

    Tuhan menciptakan hidupku supaya mengalir seperti air… tapi terkadang aku membatasinya dengan tidak melakukan apa-apa sama sekali.

    Ketika aku melewati rintangan, seringkali aku langsung merasa kalah, sakit hati dan akhirnya hanya sumpah serapah yang keluar dari mulutku.

    Aku lupa, sakit hati itu terkadang juga karena cara berfikirku yang selalu menganggap oranglain salah, dan end up membuat tidurku tidak nyenyak dan hidupku tidak nyaman. Sakit hati, hanya membuatku terhambat meraih masa depanku sendiri.

    Jadi bukan keadaan yang salah, tapi aku yang membiarkan rasa sakit dan amarah itu menguasai diriku. Aku tidak lagi focus pada masa depanku… tetapi focus pada rasa sakit hatiku, pada dendam dan amarahku.

    Aku harus berhenti. Aku harus berhenti mengeluh akan hidupku.

    Aku harus menguasai pikiranku, karena dari sanalah sumber semua amarah, iri, sedih dan semua emosi-emosi negatif. Semua rasa tidak adil, dilecehkan, diremehkan bahkan perasaan dikhianati oleh orang yang kita cintai atau sesama kita… hanya akan menguras energy kita.

    So, siapapun yang mungkin berada di  posisi ini, say this to your self:

    Aku berharga. Aku adalah rancangan Karya Agung yang Dasyat!

    Dulu ketika aku berada diposisi ini, aku juga bicara pada diriku sendiri, “aku harus menjauhkan diriku dari kemarahan… Dan mencoba duduk diam dalam ketenangan jiwaku… bersatu dengan alam, dan mengalami kemurahan Tuhan”.

    Dan ketika itu, tiba-tiba aku merasa Dia menyentuh pundakku. Ah, iya… Aku lupa. Aku lupa bahwa DIA tidak pernah pergi. Dia selalu disini, menanti aku untuk datang dan mengadu padanya.

    Bahwa Aku lelah, dan aku butuh kekuatan.

    Dan dengan lembut, dia merentangkan tangannya… lalu memelukku. Erattttt sekali. Adem sekali rasanya, berlindung disana. Rasa itu… indahhh sekali.

    Didada-Nya kini kuletakkan kepalaku yang lelah, dan Dia mengusap rambutku.

    Dengan lembut DIA berkata,

    “Anakku, dengarkan Aku baik-baik,

    Jika engkau lelah, Aku selalu ada disini, dan tangan Ku akan terbuka lebar-lebar untuk memelukmu.

    Menangislah, karena kamu butuh menangis. Rasakan debaran jantungKu, seperti ketika engkau dalam rahim ibumu…

    Aku akan senantiasa menyediakan bahuKu untuk tempatmu menangis, kapanpun engkau membutuhkannya.

    Aku akan selalu ada disini, menunggumu untuk datang… Karena AKU, sangat sayanggggg padamu.

    Dan Aku sungguh-sungguh peduli padamu. Ketahuilah, bahwa semua ini kulakukan, karena engkau BERHARGA dimata-Ku”

    Dan akupun tersungkur.

    Iya, betapa selama ini aku lari kesana kemari mencari tempat untuk menangis. Aku lupa… DIA selalu ada disini… disampingku… menungguku untuk datang… dan menangis dipundaknya.

    Ahh, terima kasih Tuhan, terkadang hanya butuh menangis untuk bisa meringankan apapun yang menghimpit rasa.

     


  4. Pelukan Meredakan Tantrum pada #Autism

    January 3, 2015 by silly

    Seringkali orang tua gelisah ketika anaknya tidak bisa berkomunikasi seperti layaknya anak seusia mereka. Orangtua lalu mencari segala cara untuk membuat anaknya bisa bicara

    Semua terapi dilakukan, malah ada yang ke orang pinter segala, hanya supaya anak mereka bisa bicara.

    Padahal Komunikasi tidak sama dengan bicara. Komunikasi tidak harus dengan verbal, karena tidak semua anak bisa berkomunikas dengan verbal.

    Anak-anak yang non vernal bisa diajarkan untuk berkomunikasi dengan banyak cara. PECS atau Picture Exchange Communication sistem adalah salah satu cara berkomunikasi untuk anak non verbal. Mereka berkomunikas dengan cara menunjukkan gambar, cara mengajarkan komunikasinya juga dengan menunjukkan gambar pada kartu2 yang biasanya dapat dibeli di tempat terapi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

    Andre anak saya juga dulu sangat sulit berkomunikasi. Ketika umurnya 1,5thn, after kejang pertama, Andre tiba-tiba mulai berhenti memanggil saya “mama”, dan mulai malas bicara…

    Setiap kali ingin sesuatu, dia akan menarik tangan saya, dan mendorong saya ke tempat benda yang dia maksud… Atau kalo tidak, dia akan menangis dan merengek jika saya tidak mengerti apa yang dia maksud.

    Jadinya saya hanya menebak-nebak sambil nanya apa yang dia mau..

    “Yang ini?” *dia menggeleng*… “Yang ini?” *geleng lagi*… “Ini?” *teteup geleng*, dengan nada pasrah dan setengah putus asa sedikit membentak saya nanya, “YANG INIHHHH?”.. Dan dia pun menangis mengamuk karena stress dan putus asa…

    Anaknya jadi overwhelmed karena mamanya gak ngerti-ngerti apa yang dia mau.. Mamanya juga overwhelmed karena dia gak ngerti-ngerti apa yang anaknya mau, meski sudah ditunjukin semuanya…

    Jadilah kami berdua ibu dan anak yang putus asa dan saling menyalurkan energy negatif satu sama lain. Kebayang gak sih gimana jadinya dua orang stress dibawah satu atap? Alamat rumahnya jadi kerasa panas dan tidak nyaman bukan?

    Untungnya Tuhan juga mengaruniakan segudang sabar, jadi ketika anak saya sudah begitu, saya peluk sambil menenangkan dirinya dengan mengusap-usap punggungnya, dan mendekatkan telinganya ke dada saya.

    Usapan pada punggungnya akan memberi rasa nyaman yang bisa menenangkan dan bunyi jantung ibunya akan terasa seperti musik yang menenangkan, yang sama seperti irama yang sering dia dengar pada saat masih didalam kandungan ibunya.

    Andre sampai usia 4 tahun tidak bisa bicara seperti layaknya anak normal seusianya. Dari mulutnya hanya keluar bunyi-bunyian yang hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang diomongin.

    Setelah terapi sampai usia 4thn, dokter menyarankan untuk masuk sekolah mainstream supaya bisa belajar berkomunikasi seperti anak normal lainnya.

    Akhirnya saya masukkan andre ke salah satu sekolah di dekat rumah saya, tanpa menceritakan kekurangan andre karena saya percaya anak saya pasti bisa seperti anak lainnya.

    Gak tahunya, gak nunggu hari jumat, baru 4 hari sekolah saya udah dipanggil kepala sekolah dan diberi tahu bahwa anak saya tidak bisa bersekolah disitu karna mengganggu aktifitas belajar mengajar, dia sering ngamuk dikelas dan melempari gurunya dengan sepatu, saat ditanya, berapa pensil yang ada ditangan gurunya.

    Saya sempat sedih luar biasa saat itu, kebayang gimana SD, SMP, SMA kelak, kalau masih TK aja anak saya udah diusir-usir dari sekolah.

    Saat saya menangis menjerit-jerit sama Tuhan, saya kembali diingatkan bahwa Tuhan itu Arsitek yang Agung, karyanya tidak pernah salah. Tidak satupun karyanya yang adalah produk yang gagal.

    Jadi ketika DIA menciptakan anak yang punya kekurangan.. Dia juga tidak lupa menitipkan kelebihan pada anak itu. Tugas kitalah orangtua untuk mencari apa kelebihan anak kita, dan membantunya memaksimalkan kelebihannya, menjadi bekal buat dia kelak ketika dewasa.

    Andre sekarang bisa berkomunikasi, setelah semua bahasa saya ganti ke bahasa Inggris. Bahkan Andre hanya mau berkomunikasi dalam bahasa Inggris, entah kenapa, dan agak sulit belajar bahasa Indonesia.

    Moms…

    Jangan memaksakan anak kita untuk harus bisa berkomunikasi secara verbal.. Usaha memang tetap harus dilakukan, tetapi “bicara” jangan menjadi target utama yang harus dicapai anak. Komunikasi tidak harus bicara. Jaman sekarang sudah ada banyak sekali sarana untuk mengajarkan anak berkomunikasi. SMS salah satunya.

    Ajarkan anak berkomunikasi dengan SMS, akan sangat membantu dia mengungkapkan apa yang dia mau. Atau dengan bahasa isyarat jika sulit menemukan hp yang bisa membantu si anak berkomunikasi.

    Jangan putus asa ya mom, tetaplah bersukacita… because we are the chosen one.

     

    Be Blessed,

    Valencia Mieke Randa (@JustSilly)