RSS Feed

IMAGINE LIVING WITHOUT LIGHT

October 31, 2016 by silly

 

Apa jadinya hidup kita tanpa listrik?

Seminggu yang lalu papa saya meninggal, dan karena beliau berasal dari Toraja, jenazahnya dibawa ke Toraja, untuk dimakamkan. Perjalanan ke Toraja kami tempuh selama 8 jam. Sebelum dimakamkan, selama 3 hari 3 malam jenazah papa disemayamkan di rumah duka, dan selama itu dilangsungkan pesta adat “Rambu Tuka” yang pada jaman dahulu dipercaya sebagai sarana yang akan menghantar orang yang kita kasihi ke alam baka yang abadi. Tapi karena kami penganut Kristen, ritual ini hanya kami jalani sebagai penghormatan terhadap adat sekaligus melestarikan budaya.

Yang mendorong saya menulis artikel ini sebenarnya bukan mau cerita tentang pemakamannya.. Nanti next posting aja.

Kali ini saya tergerak karena kegalauan hati saya selama disana. Tiap malam kami mengadakan kebaktian buat papa… dan tiap menjelang malam, lampu selalu mati! Rumah nenek saya terletak sekitar 2 kilo diatas bukit.. Dan saat mati lampu… seluruh bukit itu gelap gulita, sehingga untuk sampai ke rumah duka aja, orang harus bawa obor atau senter. Bayangin coba, hari gini.. Abad 21, yang katanya udah modern, dibelahan bumi sini, masih ada loh yang desa yang setiap malam harus berdamai dengan kegelapan.

Apa rasanya hidup dalam kegelapan?.

Saya sendiri membayangkan, kalau rumah saya mati lampu, anak-anak selalu rewel, gak bisa tidur karena kepanasan, digigitin nyamuk yang segede-gede laler ijo, mulai bosan dan mengeluh karena gak bisa ngapa-ngapain. Buat kita yang mampu, solusinya bisa beli genset, atau yang instant: nginep di hotel selama mati lampu… Tapi buat mereka yang gak mampu gimana? Anak-anak harus belajar menggunakan lilin.. sambil harus pasrah digigitin nyamuk yang gak keliatan dari mana datangnya, tahu-tahu udah gatal ajah.

img_2199

img_2197

Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak lain diluar Jakarta, yang belum tentu seberuntung kita. Seperti di kampung papa saya misalnya. Bagaimana mereka bisa belajar tanpa penerangan yang memadai.. Ngebayangin aja sedih rasanya.

Saya teringat, sepanjang perjalanan selama 8 jam dari Makassar ke Toraja, daerah-daerah yang lokasinya sulit, hampir semuanya gelap, entah karena memang belum dipasang lampu jalan, atau memang listrik belum masuk ke wilayah tersebut.

Ternyata masih banyak loh daerah di Indonesia yang sering mendapatkan pemadaman atau bahkan belum dialiri listrik. Di Pulau Jawa aja, yang notabene pulau paling padat masih ada daerah dimana listrik merupakan barang mewah, apalagi daerah terpencil diluar jawa.

Banyak hal yang dirugikan apabila listrik mati. Terlebih orang yang menggantungkan hidupnya dengan listrik. PMI misalnya… Gimana kalo kulkas stok darah di PMI mati lampu berjam-jam? Pasien di rumah sakit yang membutuhkan alat penyambung kehidupan yang menggunakan listrik juga?

Tak hanya itu, bagaimana dengan bisnis yang memerlukan listrik seperti warnet atau bisnis laundry? Kebayangkah kerugian akibat bisnis mereka tidak bisa berjalan karena listrik mati? Belum lagi alat yang rusak kalau listrik sering mati.

Ketika perekonomian sebuah keluarga terhambat, otomatis berdampak juga pada anak-anak mereka. Padahal anak-anak adalah masa depan bangsa. Ditangan merekalah nasib bangsa ini dipertaruhkan..

Sedih rasanya di luar sana masih banyak anak Indonesia yang harus belajar dengan penerangan seadanya. Tak hanya itu akses terhadap informasi pun menjadi terbatas dibandingkan anak-anak yang beruntung mendapatkan lebih banyak informasi via internet.

image1

image3

Tepat 27 Oktober 2016 kemarin ternyata adalah Hari Listrik Nasional ke-69, sebagai seorang ibu dan aktivis sosial, saya berharap pemerintah Indonesia bisa dapat segera mewujudkan Indonesia Terang. Agar semakin banyak daerah di Indonesia hingga yang terpencil bisa merasakan listrik. Anak-anak Indonesia tidak perlu belajar lagi dalam gelap gulita dan bisa merasakan kemudahan mendapatkan akses informasi.

Semoga program listrik 35 GW yang direncanakan pak Presiden Jokowi menjadikan Indonesia tidak ‘byar pet’ dan merugikan orang-orang yang membutuhkan listrik untuk kehidupan mereka. Listrik pun menjadi merata dan tarif listrik bisa ditekan menjadi lebih murah dan terjangkau bagi semua kalangan terutama yang tidak mampu. Amin 🙂

 

Share This:


2 Comments »

  1. terus semangat ya mbak silly 😀

  2. Murni Rosa says:

    Hai Mbak! Cuma nonton sekilas lalu aja waktu itu di Metro ttg listrik, apa betul ada wacana menaikan tarif PLN?
    Sedih rasanya. Saya kerja pakai netbook, tab, dll yg makan listrik. Seorang teman yg beli token prabayar pun terhitung sering, jd saya bayanginnya udah boros budget duluan.
    Semoga listrik merata n terjangkau buat semua. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *