RSS Feed

Mengapa Ada Harga Yang Harus Dibayar Saat Kita Butuh Darah dari PMI

February 25, 2014 by silly

Ini pertanyaan yang paling sering saya dapatkan di manapun dan kemanapun saya pergi.

“Mbak, kenapa sih kalau kita donor darah di PMI, darahnya gratis, padahal kalau kita butuh darah di PMI, kita harus bayar?”

Ada yang lebih ekstrim malah, dan ini justru keluar dari seorang pengacara yang katanya cukup terkenal

“Masa orang memberikan darahnya diminta ikhlas, dan tanpa imbalan apapun, sementara ketika orang lain butuh, dikenakan biaya yang cukup mahal. Ini namanya memanfaatkan dan mengkomersilkan niat tulus orang”

Saya tidak menyalahkan pernyataan-pernyataan diatas. Wajar sih, bahkan saya pun awalnya sempat berfikir demikian, sampai kemudian saya googling, dan menemukan jawabannya. Plus cari tahu informasi ini ke temen-temen PMI, akhirnya saya menemukan bahwa sebenarnya darah yang di transfusikan ke kita itu GRATIS.

Yang kita bayar adalah Biaya Penggantian Pengelolaan Darah, atau disingkat BPPD

Here’s the detail

Kenapa ada biaya yang harus kita bayar saat kita butuh darah, padahal saat kita mendonor, kita gak dibayar? Apakah PMI jual darah?

Nope, sama sekali tidak!

Transfusi darah itu tidak seperti yang kita lihat di sinetron-sinetron di televisi, dimana habis disedot dari badan seseorang, langsung di transfusikan ke badan si penerima.

Actually, yang kita lihat di sinetron itu menurut saya justru membuat orang jadi salah kaprah, karena darah tidak mungkin bisa langsung dipindahin ke tubuh penerima seperti layaknya transfer uang. Ada proses-proses yang harus dilalui, antara lain proses pemeriksaan calon pendonor, proses pengambilan darah, screening, penyimpanan dsb

Biaya yg kita keluarkan perkantong darah sebenarnya adalah biaya penggantian pemeliharaan darah, supaya kondisinya tetap sama seperti saat berada dalam tubuh kita. Biaya ini yg kita kenal dgn nama ‪#BPPD atau Biaya Penggantian Pengelolaan Darah. Besarnya ditentukan ol/ subsidi pemda stmpat.

Biaya #BPPD itu terdiri dari:

#1. Kantong darah! Kantongnya didesain khusus agar darah tidak mudah beku dan tidak rusak, kantong darah ini masih import, sehingga komponen BPPD menjadi mahal.

Selain kantong darah yang masih import, juga biaya alat-alat yang  disposable alias sekali pakai misalnya: Kapas, alkohol, jarum, selang dsb.

#2. Pada saat donor darah, semua calon pendonor dicek kesehatanya mulai dr berat badan, tekanan darah, Hb, dsb

#3. Biaya pengecekan terhadap penyakit MENULAR. Semua darah pendonor discreening terlebih dahulu apakah mengandung penyakit yang sekiranya bisa menular lewat transfusi darah.

Sesuai dengan keputusan dari WHO, penyakit yang discreening tersebut adalah:

HIV, SYPHILIS/RAJASINGA/TREPONEMA, HEPATITIS B dan HEPATITIS C.

Kebayang gak kalau kita medical check up di rumah sakit, hanya untuk tahu penyakit–penyakit tersebut ada atau tidak di badan kita, mengingat gaya hidup kita jaman sekarang amat sangat memungkinkan kita terpapar penyakit-penyakit tersebut.

Saya pernah cek darah ke La prodia, untuk Hepatitis B, Hepatitis C dan Diabetes, biayanya skitar Rp 1.350.000

Nah, dengan mendonor secara rutin, darah kita akan selalu di check secara berkala, dan jika ada apa-apa, kita akan diinformasikan untuk segera menghubungi PMI atau dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut, GRATIS pulak! :))

Amazing bukan? Kita menolong, tapi kita juga tertolong 🙂

Jangan kuatir, PMI menjamin kerahasiaan data pendonor, sehingga jika darah kita bermasalah atau tidak terpakai, hanya kita, PMI dan Tuhan yang tahu, unless you decided to tell someone. 🙂

#4. Biaya Proses Komponen Darah. FYI, darah yang didonorkan tidak berhenti dalam bentuk darah merah itu saja, melainkan diproses lagi.

Sekantong darah kita ini, nantinya akan dipisahkan menjadi komponen-komponen darah, spt: thrombosit (Tb), PRC, Plasma darah, WB dsb. Diprosesnya sesuai kebutuhan pasien. Ada yg butuh plasma darahnya saja, ada yg butuh thrombositnya saja.. ada yg butuh Whole Blood (WB) dsb.

Contohnya: Untuk Kanker umumnya butuh HANYA thrombositnya saja, yang proses pemisahannya disebut Apheresis.

Proses Apheresis ini syaratnya banyak, antara lain, berat badan calon pendonor > 60kg, tidak merokok, tidak tatoan, sehat jasmani dan rohani, dan harus lolos screening apheresis selama 8 jam pertama… Selain syaratnya banyak, juga prosesnya sekitar 2 jam, seperti Cuci Darah, menggunakan mesih khusus untuk memisahkan komponen darah, sehingga butuh biaya yang MAHAL.

Jadi kita nanti ada teman yang dengar, sekantong darah biayanya Rp 3,5 juta, itu bukan PMI jual darah, tetapi karena memang proses pemisahan thrombosit dan komponen darah lainnya menggunakan alat yang amat sangat mahal dan rumit.

Sekantong darah Apheresis, sama dengan 10-15 kantong darah pendonor regular. Itu sebabnya biaya BPPD nya jauh lebih mahal, namun lebih menguntungkan buat si calon penerima donor, karena darahnya diperoleh hanya dari 1 pendonor, jadi resiko penolakan dari tubuh pasien jauh lebih kecil dibandingkan thrombosit yang diperoleh dari 10-15 pendonor biasa.

Kapan-kapan saya posting tentang Apheresis lebih detail lagi agar tidak ada anggapan PMI jualan darah sampai 3,5Juta perkantong. (PS: saya bukan karyawan PMI, hanya orang yang peduli supaya tidak ada keraguan untuk berbagi dengan sesama 🙂 )

#5. Uji Silang kecocokan pendonor & terdonor! Ini butuh waktu sekitar 2 jam. Untuk screening darah dari penyakit-peyakit menular tadi bisa sampai 6jam

Terkadang orang masih berfikir bahwa darah bisa langsung di transfusikan, padahal tikak, Darah harus discreening terlebih dahulu untuk mengecheck kecocokan dengan calon penerima. Kalau tidak malah bisa membahayakan nyawa si penerima jika terjadi penolakan dari tubuhnya. Mau nolong malah mencelakakan orang lain, bisa berbahaya… kan kasihan…

Terakhir! #6. Biaya operasional lain-lainnya seperti alat penyimpanan, mesin proses, bangunan, SDM dan tenaga medis dsb

Semua itu adalah komponen-komponen biaya ‪#BPPD.

Semoga dengan mengetahui ini, tidak ada lagi yang ragu untuk mndonor, karna darah kalian tidak diperjualbelikan.

Let’s share love to others, by sharing our blood… It’s feel  good by doing good things, right?

Sharing love is the best way to celebrate life, cause the beauty of life doesn’t depend on how happy we are… but on how happy others can be, because of us..

Kita diciptakan Tuhan pasti untuk tujuan kebaikan, jadi mari memberi makna bagi keberadaan kita di dunia ini bagi orang lain. Kita gak harus kaya untuk bisa nolongin orang… Tuhan menyediakan darah dalam tubuh kita secara cuma-cuma, supaya kita bisa berbagi dengan orang yang membutuhkan, tanpa harus kehilangan apapun.

Berbagi darah membuat hidupmu amat sangat berharga, karna berbagi darah, means berbagi NYAWA dengan orang lain..

Kita gak harus mengalami dulu sakit dan butuh donor, untuk bisa berempati dengan orang lain dan berbagi darah kita.

Mungkin saat ini tangan kita yang berada diatas sebagai orang yang memberi, tapi satu saat, tangan kita akan berada dibawah, sebagai orang yang membutuhkan… Jadi saat tangan kita masih berada diatas, terlebih dahululah memberi, supaya saat tangan kita berada dibawah, akan ada banyak tangan yang terulur buat kita… Just like an ECHO… semua yang kembali ke kehidupan kita adalah apa yang kita tabur, dan semuanya kembali berkali-kali lipat…

So let’s share love… and you’ll feel loved.

With Humble,

Valencia MR (@JustSilly)
Founder of @Blood4LifeID@3_Little_Angels@BFLAct dan @LittleStep_BFL

 

Share This:


51 Comments »

  1. Nafian Arief says:

    trus kalo kita nyumbang berupa materi, digunakan untuk apa lagi, sementara semua udah tercukupi lewat penjualan darah yang lumayan mahal, sementara utk SDM nya udah dibantu peerintah….

    • silly says:

      Sebetulnya bukan kapasitas saya menjawab pertanyaan ini, tetapi supaya tidak ada keraguan untuk mendonor, saya coba jawab sesuai yang saya tahu dan sudah saya pelajari yah.

      Spt kita ketahui, PMI tdk saja mengurusi darah tetapi juga bencana alam, dsb, sehingga sumbangan berupa materi itu digunakan untuk membantu korban2 bencana alam, dsb. Dana yang kita bayarkan bukan penjualan darah, tetapi biaya penggantian pengelolaan darah, yang nilainya tentu saja jauh lebih besar dari yang dibebankan ke kita. Komponen2 yg saya sebutkan diatas, kalau di break down, perkantong biaya penggantian pemeliharaan darahnya bisa lebih dari 500 ribu. Bantuan dari pemerintah lah yang kemudian dipakai untuk mensubsidi biaya BPPD ini, spy biaya yang dibebankan ke masyarakt menjadi lbh sedikit.

      Semoga jawaban saya memuaskan mas yah 🙂

  2. Marina Yuanita says:

    Sori..untuk memperjelas saja..kyknya diabetes itu tidak menular d? Sy sendiri penderita diabetes selama 18 thn & orang2 di sekitar saya tidak ada yg tertular..apa mungkin maksudnya HIV? Atau memang ada penemuan baru bhw diabetes disebabkan krn virus? Pls enlighten me..thanks 🙂

    • silly says:

      Hai mbak Marina,

      Ini juga bukan kapasitas saya menjawab, mestinya sih klo ada dokter yg kebetulan baca, mohon dikoreksi yah..

      Diabetes memang tidak menular dan tidak diturunkan, tetapi karena ini berhubungan dengan darah, ketika kita kulit kita dalam keadaan terbuka/luka, kontak darah kita dengan darah penderita beresiko menularkan penyakit yang sama. CMIIW.

      Btw, diabetes bukan disebabkan oleh virus, melainkan ketidak mampuan tubuh untuk menghasilkan insulin (hormon pengatur gula darah) atau insulin yang dihasilkan tidak mencukupi atau insulin tidak bekerja dengan baik (I know you know this exactly).

      Berhubung saya juga bukan dokter, dan informasi diatas saya dapat dari dokter juga, jadi mendingan saya tanya lagi lbh detail ke dokternya yah, biar lbh jelas. Klo perlu skalian dokternya yang kita geret utk jawab disini, hihihi. Thx

      • Jonathan says:

        Saya dokter muda di Jogja. Saya salut kepada mbak Silly karena berusaha mencari berbagai sumber untuk mengkonfirmasi kegelisahan masyarakat tentang biaya penggantian pengelolaan darah tersebut, dan ini merupakan tanda bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai concern akan dunia kesehatan dan mulai mencari tahu. Namun perlu diperhatikan bahwa sumber-sumber informasi kesehatan harus perlu dikonfirmasi ulang kebenarannya karena banyak sumber kesehatan yang menyesatkan, carilah sumber-sumber dari jurnal-jurnal kesehatan & sumber terpercaya.

        Diabetes melitus (tipe 1 atau 2) merupakan penyakit yang disebabkan oleh genetik, autoimun, insensitifitas insulin, atau pola hidup yang salah. Sehingga diabetes bukan merupakan penyakit menular (infeksius) karena origin diabetes bukan berasal dari infeksi virus/bakteri.

        Dan terkait dengan penularan penyakit melalui kloset sangat jarang terjadi kasusnya, bahkan tidak terbukti secara klinis, namun tidak ada salahnya bila kita bisa berhati-hati dan mencegahnya dengan membersihkan kloset umum terlebih dahulu sebelum digunakan. Sebagai tambahan, terkadang kloset menjadi obyek kesalahan dan alasan orang-orang yang terkena penyakit menular seksual, padahal bukan itu penyebabnya (melainkan pola seksual yang salah).

        Kembali lagi ke topik, jika dikaitkan dengan hal yang di atas, justru orang-orang Diabeteslah yang rawan terkena penyakit-penyakit infeksi dari sekitar, karena pada orang Diabetes mengalami penurunan imunitas yang cukup signifikan.

        Akan lebih bijak jika mbak Silly bisa mengkoreksi/mengedit kata-kata yang bisa menjadi kontroversi. Sisanya, saya apresiasi mbak Silly atas tulisannya tentang kesehatan yang luar biasa baik dan menginspirasi!

      • silly says:

        Hai dokter,

        Makasih masukannya. Okay, saya edit yah. ohya, klo hepatitis gimana dok, penularannya apakah mungkin bisa melalui pedicure seperti yang diomongin org selama ini?

        Mohon penjelasan yaaa, makasih dok

  3. Cut Keumala says:

    izin share ya mba …

  4. Riana says:

    Kak.. Mau tanya tentang Bank Darah. Apa memungkinkan bank darah berdiri sendiri (mandiri satu bangunan) tanpa berada pada manajemen unit di rumah sakit? Terima kasih 🙂

    • silly says:

      Bank Darah adanya di PMI setahu saya, dan RS-RS yang memang sudah memiliki fasilitas tersebut, sesuai standard WHO.

      Kalau untuk berdiri sendiri sih mungkin saja yah, asal sesuai standard kesehatan International mungkin. Lebih jelasnya mesti nanya ke PMI 🙂

  5. kritis says:

    Maaf…tadinya org kantor ramai donor darah cuma karena tau di komersilkan atau apapun lah nama dan istilahnya..maka kita stop ga donor lg…awal dr anggota keluarga dr rekan kantor butuh darah malah disuruh bayar….tksh

    • silly says:

      Bukan dikomersilkan pak, baca artikel saya deh, dengan hati, jangan pake emosi dulu, bapak akan mengerti kalau biaya yang dibayarkan itu namanya biaya BPPD

      • Ivan Maulidi says:

        “Sesuai ketentuan UU Nomor 36/2009, darah tak boleh diperjualbelikan dengan alasan apapun” !!

        Praktik jual beli darah ini bahkan dilegalisasi melalui peraturan daerah (Perda) dengan alasan sebagai pengganti biaya proses dan pengadaan kantong darah. “Harga satu kantong darah ditentukan Rp300.000 – Rp.500.000. Harga ini bagi pasien miskin sangat memberatkan.

        Tahukah anda alokasi APBN paling besar adalah untuk KESEHATAN disusul PU (Pekerjaan umum) dan TNI POLRI.
        APBN untuk KESEHATAN sebesar 37 persen di tahun 2014 atau senilai Rp 67,5 triliun.
        Kemana sajakah Faedah PAJAK & upeti (Tanah, bangunan, usaha dll) yang kita bayarkan kalo tidak berbalik ke kita.

        Allah mmg sudah menTakdirkan kematian hambanya. Paman saya Meninggal, yang mungkin saja karena birokrasi & administrasi yg membebani dan bertele-tele, Saya harus membayar Sekantong darah Yg DIBANDROL Rp.300.000. Di dompet saya hanya ada uang 70 ribu. Negosiasi yg terlalu lama sejalan dengan perjuangan korban untuk bertahan hidup. Akhirnya saya menggadaikan motor saya ke warung terdekat untuk bisa membeli darah tersebut. Bagai Menjerit tak bersuara.. menangis pilu tak berair, sesampai di UGD Paman yg mengasuh saya sejak kecil telah meninggal.

        Analisis Haruslah tidak dengan kacamata kuda melulu.
        Hipotesa yg di tuliskan laiknya ditimbang dari berbagai aspek Sosial Hukum Budaya dan keadan, serta Libatkan dengan kondisi di masyarakat.

        source:
        http://www.solopos.com/2012/06/14/beratkan-pasien-dpr-minta-hentikan-jual-beli-darah-di-pmi-193360
        http://mutupelayanankesehatan.net/index.php/berita/767-total-anggaran-kesehatan-2014-capai-37-persen-apbn

      • swandani says:

        kl menurut saya tetap tdk masuk akal soalnya berjudul lembaga sosial. PMI dpt bantuan dr mn2. Ada anggaran pemerintah. lagian org butuh darah tdk setiap hari. msh ada bln darah PMI jg. kurang apalagi untuk BPPD? Dan yg pasti, jabatan ketua PMI di daerah2 pasti ricuh di internal. Ada apa kl bukan profit? Harusnya diganti jgn lembaga sosial, tp BUMN saja mlh jelas profitnya kembali ke masyarakat. Apa kalian mendapat laporan ttg keuangan PMI setiap tahun?

      • Ari says:

        Maaf yah, saya mau coment dikit soal orang butuh darah tidak setiap hari. Coba anda cek dulu ke rumah sakit di kota anda, dalam 1 hari ada berapa korban kecelakaan, ada berapa pasien yang butuh transfusi. Selama ini stock darah sering tidak mencukupi kebutuhan para pasien, maka dari itu banyak sekali yayasan sosial yang bekerja sama dengan PMI untuk mengadakan donor darah amal. Seperti di tempat saya, kami rutin 3 bulan sekali ngadainnya, dan rata sekali ngadain cm dapat sekitar 30an bag doank, dan belum tentu semua bag darah yg terkumpul bisa digunakan untuk didonorkan.
        Ketentuan untuk mendonorkan darah juga banyak, tidak boleh sendang konsumsi obat, bahkan batuk dan pilek ringan juga tidak diperbolehkan untuk donor darah. Tidak semua yang hadir saat kegiatan donor darah bisa mendonorkan darahnya, dari pengalaman kita rata2 sekitar 60-70% aza, karena berbagai faktor.
        Dan setiap pendonor walaupun tubuh dalam kondisi super sehat sekalipun, ada waktu jeda untuk boleh donor kembali, biasanya untuk laki2 2,5 bulan, dan untuk perempuan 3 bulan. Coba anda bayangkan sendiri dan cari data2 di rumah sakit untuk yang butuh darah 1 hari berapa banyak.

        Saya disini berkomentar soal kebutuhan darah. Bukan berkomentar soal dana, dana itu bukan urusan saya, dan apabila dijadikan ajang korupsi itu juga urusan mereka. Hukuman diakhirat mereka yang tanggung sendiri bukan saya.
        Disini kita diajak donor darah untuk menolong sesama, untuk berbuat kebaikan, menabung pahala untuk akhir hidup kita.

        Dengan tidak maunya kita untuk donor darah, atau menyebarkan dan menghasut orang lain untuk tidak donor darah, lantas siapa yang mau menolong saudara2 kita yang sedang membutuhkan darah, saudara2 kita yang sedang sekarat?

      • dicky says:

        Pa klo mau donor iklas aja ga usah tau darah nya d kemanain yg penting niat kita…
        Allah gk tdur….
        Pahala gk akan ke tuker….

  6. Aldi Rizaldi says:

    Hi, Mbak Silly. Apa Kabar? Semoga sehat selalu, dan terus bermanfaat 😀
    Nice share mbak, iya nih banyak kawan-kawan yang underestimate gara-gara hal kayak gini..andai mereka mau cari tau lebih lanjut…

  7. debora says:

    Waaah Mbak Silly, bagus banget nih artikelnya… Kebetulan tadi suami saya baru donor darah untuk kawannya penderita kanker, lalu saya bilang klo yang didonorkan itu nanti bukan darahmu, tapi cuma seperti “penggantian” darah saja ke PMI, trus saya googling ketemu artikel ini deh..Jadi banyak pengetahuan baru nih. Yah memang di dunia ini segala sesuatu pasti ujung-ujungnya duit, pasti ada biaya waktu kita butuh darah, walaupun kita rajin donor darah secara gratis, haha..
    BTW, nice share Mbak..Thanks

  8. mr says:

    maaf saya agak ngeyel, hehe,,
    1. bagaimana dgn kondisi korban tabrakan yg membutuhkan darah seCEPATNYA <2jam dan kebetulan saat itu stok KANTONG darah sedang kosong , dan kebetulan ada pihak keluarga yang pernah mendonorkan darah kapada korban(yg pastinya udah cocok), apa masih harus pake PERAWATAN dengan proses 2 jam tersebut???
    bisa ga keburu donk nyawa korban..

    2. saya memang belum pernah donor darah, apakah saat donor dan chek up itu td kita lalu diberi data hasil chek up darah kita???
    jika iya, bukan kah itu bisa sebagai data untuk langaung diberikan saat kita donor darah dalam keadaan darurat atau kah tetap harus chek up 2 jam td itu???
    .
    thx….

    • silly says:

      1. Di PMI sebetulnya ada yang namanya stok buffer, artinya stok minimum yang HARUS tersedia di PMI, yg sudah di screening, dan disesuaikan dengan jumlah penduduk daerah tersebut. Misalnya jakarta: penduduknya katakanlah 10.000 org Goldar A, maka stok minimum darah A sebanyak 2% dari 10.000

      Klo kurang dari itu, maka PMI akan bilang stok kosong, supaya orang-orang yang belum mendonor bisa segera mendonor, utk menjaga spy stok darah tetap aman, terutama untuk kasus2 yang urgent kayak kecelakaan

      Klo ada keluarga yang pernah mendonor pada korban, tetap harus melalui PMI donornya, dan tetap akan melalui proses screening, darah yang diberikan ke pasien adalah darah yang tersedia dalam stok buffer tadi.

      Kalo pun force major tdk ada satupun darah yang tersedia (misalnya kondisi perang, dsb), maka pihak keluarga akan diminta utk menandatangani sudar kesepakatan bahwa keluarga bersedia menerima transfusi tanpa screening. itupun jarang banget terjadi setahu saya 🙂

      2. Hehehe, saat kita donor gak mungkin langsung check up detail, jadi yang di check itu cuma HB, Tensi, dan Berat badan. Makanya diminta mengisi form dgn sejujur-jujurnya, supaya kalo memang beresiko menderita penyakit tertentu, tidak disarankan untuk medonor, karena toh darahnya nanti akan dibuang juga, dan itu memakan biaya yg tidak sedikit, karena darah kita kan media yang sangat subur untuk tumbuh kembangnya bakteri, jadi kalo dibuang harus diolah dulu supaya tdk menjadi tempat berkembanganya bakteri baru yg mencemari lingkungan

      hasil check up darah kita akan diberitahukan ke pendonor melalui email atau sms jika memang darah kita mengandung penyakit menular atau tidak layak didonorkan.

      Jika tidak, kita tidak akan menerima email apapun, karena dianggap layak untuk di donorkan

      Yuk mas, jangan ragu2 berbuat baik untuk sesama… Gak usah mikirin pahala dulu, jangan juga mikirin darah bakal diperjual belikan, pokoknya yakinlah, setiap perbuatan baik, akan berdampak baik bagi kita juga, dan bagi orang lain tentunya.

      Salam

      Silly

    • Ema widya says:

      Dear mr. Maaf kalo saya ikut menjawab, saya dari laborat pmi sering mendapatkan kasus seperti itu, mungkin orang awam berpendapat kalo ada yg minta darah langsung kasih aja kgn bertele2. Permasalahannya kami yg bekerja ini manusia loh mas punya hatinurani, kalau jaman dahulu golongan O itu bisa kemana saja sekarang ? Its big no! Why ? Karena sesama golongan darah saja blm tentu cocok, kalo tdk cocok efek nya apa? Muali dari gatal2 sampai meninggal. Kalau ibarat orang jawa kami bekerja secepat mungkin tetapi tetap pada prosedur kerja kami. Karena kalau ada apa2 dengan pasien, kami yg bertanggung jawab di dunia maupun diakhirat. Kalau darah sudah dikeluarkan buru2 tdk sesuai prosedur atau istilah medisnya CITO boleh asalkan dengan persetujuan dokter yg merawatnya, jadi intinya adalah kami tidak membuat prosesnya bertele2 tetapi kami menjaga keselamatan nyawa pasien kami dengan memberikan darah yang cocok dan aman untuk digunakan. Terima kasih

      • driani kushardina says:

        Mau tanya nih… tiap pendonor itu darahnya selalu dicek hiv g?? Soalnya saya pernah baca artikel kok ada seseorang tertular hiv katanya abis dapat darah donor.

  9. budi says:

    Izin share ya mbak..

  10. cahya says:

    Mba Silly,
    Ijin comment.
    saya termasuk org yg negatif banget soal hrs beli darah, apalagi mahal lagi.
    dari penjelasan di atas, membuka wawasan saya, walau fikiran saya mengarahkan saya untuk lantas comment…kemana aja pemerintah, hrs-nya biaya tinggi sekalipun harus dihandle all by APBN/APBD. or kalau memang gak nutup juga, saya hanya dapat berdoa, semoga penghilangan subsidi bahan bakar yg katanya kl disiplin dijalankan sampe akhir 2014 bisa save uang negara 60Triliun..let’s see and pray.
    Semoga kedepannya, cari darah gak harus beli…untuk kemaslahatan bangsa kita sendiri.
    Terima kasih…Wasslm

    • fifi says:

      Good artikel mba silly..

      Dalam hal apapun memang butuh dana.
      Tidak ada yg gratis.

      So, permasalahan pokoknya bukan terletak pada biaya BPPD, tapi hal yg mendasar adalah bagaiman pemerintah mampu meng-cover biaya tersebut.
      Seperti halnya yg dikatakan oleh mba cahya,,

      Marilah kita benahi negeri ini, karena semuanya saling berkaitan.

1 2 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *