RSS Feed

About Me

Pertama-tama perkenalkan, nama saya, Valencia Mieke Randa, atau yang lebih dikenal orang dengan nama silly, justsilly.

 

Saya adalah pekerja online social media, hampir separuh hidup saya, saya habiskan di online social media, entah itu mencari informasi yang saya butuhkan, menyalurkan ide-ide kreatif yang saya punya, atau sekedar bertegur sapa dengan sahabat-sahabat saya, yang karena jarak dan waktu yang sangat terbatas, tidak memungkinkan untuk bisa bertemu setiap saat secara offline.

 

Tentu saja saya tetap beraktifitas secara offline, karena dunia online itu baru akan benar-benar nyata manfaatnya jika kita combine dengan offline activity.

 

Anyway, bicara tentang online social media, menurut saya, social media merupakan media informasi yang sangat powerful. Dunia tanpa batas! Dunia dimana semua informasi bisa kita sebar dalam dimensi yang tidak dibatasi oleh ruang, waktu, status  pendidikan maupun strata sosial. Siapapun boleh ambil bagian dalam mengekspresikan imajinasi dan kreasi mereka masing-masing.

 

Ini memungkinkan siapa saja yang memanfaatkan social media ini untuk menjangkau orang banyak serta mendapat dukungan terhadap satu isu yang sedang mereka perjuangkan. Ini juga memudahkan satu komunitas atau lembaga nirlaba/sosial untuk menyebarkan pesan sosial ke jaringan mereka masing-masing.

 

Blood For Life misalnya – wadah yang kami buat untuk menjembatani antara pendonor dengan orang yang rindu untuk mendonorkan darahnya – kami memanfaatkan jaringan online social media ini untuk menyebarkan informasi mengenai kebutuhan donor darah yang mendesak, yang tidak terpenuhi kebutuhannya karena stock di PMI kosong, atau darahnya langka.

 

Media social yang paling utama yang saat ini sangat membantu Blood For Life (BFL) menyebarkan informasi kebutuhan donor yang urgent adalah twitter, karena dari sisi kecepatan penyebaran informasi, twitter itu updated per detik. Jadi kebutuhan donor yang semuanya mendesak, bisa langsung tersebar dalam hitungan detik, dan umumnya dalam waktu kurang lebih 1-2 jam, kebutuhan donornya sudah terpenuhi. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang golongan darahnya langka, contohnya AB Rhesus Negatif.

 

Golongan darah AB itu hanya 7% dari total seluruh penduduk Indonesia, sementara jumlah penduduk Indonesia yang Rhesusnya negatif hanya sekitar 0,05% dari total seluruh penduduk Indonesia. Kebayang kan susahnya mencari pendonor jika kasusnya AB Rhesus negatif.

 

Dulu ketika saya membuat gerakan ini, saya sempat bingung harus mulai dari mana, melalui apa, dan sebagainya. Saya sadar sepenuhnya, gerakan sosial itu butuh effort yang tidak sedikit. Menggerakkan orang untuk berbuat kebaikan gak cuma butuh dana, tetapi juga inovasi yang kreatif supaya bisa menjangkau banyak hati, karena pada dasarnya gerakan sosial adalah gerakan dari hati. To feel good, by doing good.

 

Gerakan-gerakan sosial yang digalang secara offline selain butuh biaya yang tidak sedikit, waktu dan tenaga yang juga tidak sedikit, juga power yang besar untuk menggerakkan massa. Sementara saat itu saya bukanlah orang yang punya uang berlebih, bukan orang besar yang punya power untuk menggerakkan massa, bukan juga selebriti atau orang terkenal sehingga bisa mempengaruhi banyak orang untuk ikut berbuat baik,  pokoknya bukan siapa-siapa. Powerless!

 

Tetapi kecintaan saya pada dunia sosial, dan panggilan hati saya untuk berbuat sesuatu buat orang lain membuat saya berfikir keras, bagaimana cara menyampaikan misi saya ini kepada banyak orang.

 

Saat itu internet sudah mulai dikenal banyak orang. Melalui internet kita bisa terhubung dengan siapa saja, even orang yang sama sekali tidak kita kenal sebelumnya. Menurut saya ini ajaib.

 

Ini yang kemudian mendorong saya untuk memulai gerakan ini, melalui online social media, melalui jejaring social yang saya punya, termasuk facebook, dan pembaca blog saya dahulu. At least kita bisa berbuat sesuatu bagi orang-orang sekeliling kita dulu.

 

Prinsip saya, kita tidak harus menjadi orang besar dulu untuk bisa menolong orang lain. Kita bisa mulai dari orang-orang sekeliling kita dulu, jejaring pertemanan yang kita punya dan sebagainya.  Bukankah sesuatu yang besar juga dimulai dari hal-hal yang kecil.

 

A big step start from a tiny little step.

 

So I took my little step. Saya buat posting tentang ide tersebut di blog saya dan facebook, lalu saya buat mailing list untuk mengumpulkan sahabat-sahabat yang tergerak untuk bergabung. Awalnya hanya 44 orang, saat ini yang menjadi standby donor baik facebook maupun twitter BFL ada lebih dari 15 ribu orang dari seluruh Indonesia, dan sudah menolong menghubungkan puluhan ribu pendonor dan yang membutuhkan pendonor disaat urgent.

 

Saya tidak pernah bermimpi akan sampai ketitik ini. Yang terbayang ketika itu hanyalah, saya ingin berbuat sesuatu buat orang lain, ingin kehadiran saya didunia ini berharga buat sesama. Dan social media adalah jawaban dari semua mimpi saya.

Tentu saja ini tidak mudah, mengingat saya bukanlah siapa-siapa, dan tidak punya latar belakang yang berhubungan dengan kesehatan sama sekali.

Sepanjang perjalanan BFL, sejak terbentuk tahun 2009 sampai 2010, tidak mudah mengajak orang untuk bergabung, dan menjadi standby donor. Mungkin masih banyak yang berfikir, “ini gerakan apa sih, kan sudah ada PMI”

Tidak banyak orang yang sadar kala itu, bahwa di Indonesia, gap antara kebutuhan donor dengan jumlah pendonor masih besar sekali. Data dari PMI thn 2009 tercatat kebutuhan donor pertahun adalah 4,5 juta kantong, sementara jumlah pendonor baru 1 juta kantong pertahun.

Belum lagi saat bulan puasa tiba. Dua minggu sebelum dan sesudah lebaran, stock darah di PMI menipis bahkan pernah kosong, diakibatkan karna kurangnya jumlah pendonor. Dapat dipahami mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, dan pada saat puasa, orang cenderung tidak mendonor karena takut lemas atau takut puasanya batal.

Kebutuhan donor yang urgent disaat-saat seperti inilah, yang membuat kehadiran BFL menjadi sangat berarti. BFL hadir menjadi jembatan antara orang yang membutuhkan donor, dengan orang yang ingin mendonor. Dan online Social Media berperan sangat besar dalam menyebarkan informasi kebutuhan donor urgent ini kepada semua orang.

Sayang, tahun 2010, BFL sempat vakum beberapa saat karena pada saat itu, saya memutuskan untuk bekerja pada salah satu perusahaan logistik di Indonesia. Kesalahan saya adalah, ketika saya membentuk BFL, saya belum cukup kuat menanamkan rasa memiliki dan menjadi bagian dari kegiatan ini kepada seluruh sahabat BFL, dan hampir tidak pernah melakukan kopi darat, which is , menjadi keharusan untuk sebuah gerakan sosial non profit, untuk membangun trust and ownership di hati setiap sahabat BFL.

Mailing list masih tetap berjalan, namun aktifitasnya boleh dibilang sangat jarang sekali ketika itu. Wajar memang, karna BFL ini adalah gerakan dari hati, non profit, bukan organisasi ataupun yayasan. Jadi ketika motor penggeraknya berhenti, otomatis yang digerakin juga berhenti.

Turning Point

Ada satu peristiwa yang menurut saya merupakan titik balik dari seluruh perjalanan hidup saya, dan membuat saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan kembali mengikuti passion saya, memberikan hidup saya untuk melayani Tuhan melalui sesama yang membutuhkan.

Ketika itu, ada orang yang telp hendak minta bantuan, namun karena saya sedang meeting, saya tidak langsung merespon, ponsel pun saya matikan. Orang tersebut kemudian mengirim SMS, butuh donor darah untuk Ibunya, namun karena masih sibuk, saya belum merespon sms tersebut.

Baru setelah selesai meeting, hati saya tergerak untuk telp, sekedar menanyakan apakah donornya sudah dapat atau belum, dan jawabannya ketika itu membuat saya shock.

“Oh, Telat! Udah mati!!!”

Jawaban ini sungguh membekas dikepala saya, sampai 2 bulan kemudian, ibu saya meninggal. Saya bahkan tidak diberi kesempatan untuk membantu ibu saya, beliau pergi tanpa saya ada disisinya.

Ini sungguh menyakitkan buat saya, kehilangan ibu saya adalah hal yang paling menyakitkan dalam seluruh rangkaian perjalanan hidup saya… Dan kehilangan beliau membuat saya merasa hampir kehilangan separuh hidup saya… Ini pula yang kemudian membuat saya menyadari sakit yang dirasakan orang itu, ketika dia juga harus kehilangan ibunya.

Sejak itu saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya sebagai Site Manager, melepaskan segala fasilitas dan kepastian akan masa depan, dan mulai mengabdikan hidup saya sepenuhnya untuk melayani Tuhan lewat sesama.

Buat saya uang bukan lagi segalanya. Hidup itu hanya sekali, dan saya ingin mengisi hidup saya ini dengan sesuatu yang bermakna. That’s the way I wanna be remembered when I was graduated from this life.

Ada yang bilang, “Ngapain mikir gituan, masih muda, ntar aja kalo udah tua, buat modal masuk surga”

Saya suka senyum-senyum sendiri jika ada yang bicara seperti itu pada saya. Mengapa harus menunggu tua untuk berbuat baik? Saya rasa banyak orang yang seperti saya, yang melakukan semua itu bukan karena iming-iming biar bisa masuk surga, tetapi karena panggilan hati… Feeling good by doing good things.

So we did it for our self, to feel good inside.

Pertanyaan berikut: “Gak khawatir nanti mbak gak punya penghasilan? Hidup walau bagaimanapun kan tidak mungkin lepas dari uang

Tentu saja saya sempat khawatir mengenai penghasilan, karena biar bagaimanapun, sebagai perempuan mandiri, saya punya prinsip, bahwa perempuan harus punya penghasilan sendiri.

Mengapa? Karena perempuan yang punya penghasilan sendiri akan memiliki rasa percaya diri yang lebih besar dalam memandang masa depannya. Dan perempuan yang punya percaya diri yang tinggi, akan melahirkan dan membesarkan anak-anak yang mandiri dan percaya diri juga.

Ini jadi sangat bertentangan dengan keinginan saya untuk berhenti bekerja dan mengabdikan hidup saya, untuk Tuhan dan sesama. Karena mengabdi, berarti kita rela menyerahkan semua yang kita punya: waktu, pikiran dan tenaga, totally dedicated to our passion.

Tapi kemudian saya sadar, punya penghasilan bukan berarti harus didapatkan dari jalur formil bukan? Kita bisa tetap punya penghasilan sendiri melalui ketrampilan, talenta kita, atau apapun, seperti buka usaha sendiri misalnya, dan sebagainya. Dan itu bisa kita lakukan dari mana saja, tidak harus dari kantor.

Online social media pun juga bisa kta manfaatkan. Semua sangat memungkinkan.

Lagipula, Tuhan itu maha memiliki. Semua yang ada di dunia ini adalah milik yang empunya kehidupan ini. Sehingga ketika kita belajar memberikan yang terbaik untuk Dia, semua yang kita butuhkan akan dipenuhi, terkadang melebihi apa yang kita perlukan. Why so worry J

So, efektif sejak April 2010, saya memutuskan untuk berhenti bekerja secara formal, dan mulai kembali mengaktifkan Blood For Life.

Inovasi

Karena sempat vakum, membangun kembali BFL itu sulit sekali. Segalanya seperti harus memulai dari awal kembali. Butuh inovasi-inovasi yang jitu untuk kembali membangun komunitas ini.

Saya lalu mencoba trik “Menjemput Bola”

Dengan menggunakan keywords: “butuh donor”, “Urgent”, “Donor Darah”, “Leukemia”, “Tallasemia”, saya mencari orang yang membutuhkan donor darah. Saya mulai mengaktifkan kembali akun BFL, dan dari kedua akun tersebut, @justsilly dan @blood4lifeID, saya mulai menyebarkan informasi kebutuhan donornya.

Puji Tuhan, follower BFL yang tadinya dari April 2011 sekitar 132 orang, sekarang menjadi sekitar 15.000 follower. Means, jika kita peduli, akan ada 15 ribu orang yang standby untuk setiap saat mendonorkan darahnya jika dibutuhkan. Belum lagi jika kita semua peduli untuk meneruskan informasi kebutuhan donor ini kepada follower kita, begitu seterusnya, lapisan pertama, kedua, ketiga, just like MLM, the message will spread all over the world in a minute, massively.

Kunci sukses tidaknya sebuah gerakan sosial di online social media adalah TRUST. Dan untuk bisa memperoleh trust tersebut, kita harus punya personal branding yang kuat, bagaimana mendeliver inner soul kita menjadi satu pribadi yang nyata yang dapat di jadikan panutan oleh orang lain.

Pesan dan ajakan untuk ikut beramal juga harus disampaikan dengan bahasa yang humble, santun, jujur, dan menyentuh hati, tanpa terkesan mengintimidasi.

Cause everything that comes from the heart, will directly touches the heart.

Saat ini, saya menjalankan BFL tidak sendiri, ada banyak sahabat-sahabat baik saya yang juga tergerak untuk menjadi volunteer di gerakan BFL ini, dan secara bergantian “berjaga” di IGD Maya kami – twitter @Blood4LifeId dan Facebook Blood4LifeID

Sahabat-sahabat yang menjadi Admin di Online social media BFL adalah: Dian Sukmawati (@diandiol), Yoga Amaliasari (@agoyyoga), Agatha N Ardhiati (mbakdos), Mimed Hamida (@miedhamida), Jessica Angkasa (@jessicaangkasa), Fiki Maulani Kursidi (@fiki0102), Noor Zakiah (@snzakiah) dan Joshua Krisnawan (@joshuaKrisnawan)

Mereka semua secara bergantian mengatur shift “tugas jaga IGD Maya”. Tidak cuma mengkonfirmasi informasi yang masuk, tetapi juga memastikan si penderita sudah terpenuhi kebutuhan donornya.

And they all do it for free. Keren yah J

Bulan Agustus kemarin BFL terpilih menjadi Google Chrome Web Hero’s Indonesia, dan buat saya dan teman-teman di Blood For Life, ini merupakan penghargaan yang luar biasa.

Sebetulnya penghargaan yang amat sangat luar biasa buat kami justru adalah ketika mengetahui bahwa ada pasien yang darahnya langka, dan sulit sekali untuk mencari donornya. Rasanya sudah hopeless bakal dapat donornya, tetapi melalui online social media, semua menjadi mungkin.

Salah satu kisah yang membuat saya merinding adalah ketika mencarikan donor darah AB Rhesus (-) untuk seorang Dekan salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Ibu Dekan ini harus melahirkan melalui process Caesar karena terlalu riskan bagi beliau jika harus melahirkan secara normal. Masalahnya darahnya AB (-), golongan darah yang sangat langka.

Untungnya, bekerja sama dengan temen2 dari @RhesusNegatifID, dan semua yang peduli, melalui online social media, donornya ketemu dan si ibu bisa dioperasi. Beliau melahirkan anak perempuan yang sehat dan lucu. Thank God :’)

Kekuatan social media membuat saya berkali-kali bisa melihat keajaiban. Sesuatu yang rasanya mustahil, bisa terjadi hanya melalui online social media.

Masih ingat kasus bayi 8 bulan dari Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang mengalami kekerasan seksual, ditemukan dalam keadaan tangan dan kaki terikat, dengan kondisi yang sangat menggenaskan, dan terombang-ambing diatas perahu di tengah-tengah laut?. Ajaibnya, Bayi ini ditemukan dalam keadaan hidup, pukul 18 magrib, 16 jam setelah dia diculik dari pelukan ibunya pada pukul 2 subuh dini hari.

Siapapun yang membaca berita tentang bayi 8 bulan ini pasti akan sangat geram dan marah. Sayapun, ketika membaca berita itu merasakan amarah luar biasa, bagaimana mungkin ada manusia yang tega berbuat begitu. Namun saya sadar, kemarahan ini hanya akan menyulut orang-orang yang ada di dalam lingkaran pertemanan saya, dan ikut menumpahkan sumpah serapah dan emosi negatifnya.

Saya berfikir, jika energy negatif yang ada ini saya ubah menjadi power, ini pasti bisa menjadi kekuatan yang besar untuk membantu bayi ini, at least ada sesuatu yang kita lakukan untuk bayi ini, atas nama kemanusiaan.

Akhirnya, saya dan sahabat saya Fla, yang kebetulan juga punya rasa peduli yang tinggi, ditemani Titut, sahabat baik saya yang juga kenalnya dari online social media, kami berangkat ke Bantaeng, dan menemukan tidak hanya 1 korban, tetapi ada 5 (lima) korban dan semuanya anak-anak antara 6-9 tahun.

Yang mengharukan adalah, dengan kekuatan dari online social media, kita bisa merubah rasa prihatin yang ada, menjadi power yang luar biasa dalam menggalang bantuan buat anak-anak korban kekerasan seksual ini.

Dari teman-teman di online social media, plus teman-teman artis yang menggalang dana melalui malam dana, Alhamdulillah puji Tuhan, dalam waktu kurang lebih 1 bulan, terkumpul sekitar 300 juta rupiah, yang seluruhnya disumbangkan pada ke 5 korban ini. Beli rumah, warung, perahu, motor, modal usaha, dan sisanya dengan bantuan dari temen2 di Aidil Akbar Finance, kita merencanakan dana pendidikan bagi si bayi ini. Laporan penyerahan bantuan dan laporan keuangan lengkap diposting di blog mbak Fla sebagai bukti pertanggungjawaban, sekaligus memberikan rasa nyaman bagi semua orang yang sudah membantu. Biar bagaimanapun, mereka berhak untuk tahu kemana dana mereka dialirkan, dan untuk apa aja dana itu dipergunakan.

Bahagianya luar biasa ketika itu. Mungkin kita tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi, but at least kita bisa memberikan masa depan yang lebih baik bagi mereka.

Buat saya pribadi, this is miracle! Dan keajaiban ini bisa terjadi, hanya karena ada social media.

Banyak sekali cerita yang bisa saya ceritakan tentang betapa powerfulnya Online social media, tapi kalau saya ceritakan semua, saya khawatir satu buku ini pun tidak akan cukup untuk memuat semuanya.

Saya berkali-kali menyaksikan keajaiban demi keajaiban yang terjadi selama menggerakkan kegiatan sosial, baik itu Blood For Life, maupun #3LittleAngels – gerakan sosial yang bertujuan membantu anak-anak yang berpenyakit kronis dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Banyak anak-anak yang sudah tidak punya harapan untuk hidup, tetapi kemudian, miracle happen, anak ini bisa sembuh dan seluruh kebutuhan biaya rumah sakitnya pun bisa terpenuhi.

And It’s all happen though Online Social Media.

Lalu bagaimana dengan penghasilan? Ah, jika ada kesempatan lagi nanti, saya akan bercerita betapa menyenangkannya bekerja sebagai online social media publicist, atau yang lebih dikenal orang sebagai influencer.

Intinya, apapun memungkinkan untuk anda lakukan via online social media. Asal ada kemauan yang kuat, semangat, konsistensi dan sesuatu yang berbeda yang bisa anda share ke orang lain, anda akan berhasil. Nothing is impossible.

Because everyone is a miracle believer.

Salam Hangat,

Valencia Mieke Randa a.k.a Silly
The Beauty of life doesnt depend on how happy I am…
But On how happy others can be, because of me…

Share This:

No Comments

No comments yet.

Sorry, the comment form is closed at this time.